Empat Panduan Setting Untuk Fotografi Makanan

Pengaturan kamera dapat menjadi bagian paling menakutkan dari belajar menghasilkan gambar yang diinginkan. Aperture, shutter speed, ISO, white balance, dan tombol-tombol tampak membingungkan bagi sebagian besar dari kita pada awalnya, membuat fitur Auto begitu menggoda. Anda yang berotak kanan, jangan takut, matematika fotografi tidak sesulit matematika kelas sembilan.

Berikut adalah empat hal yang perlu diingat ketika menempatkan kamera ke mode manual untuk mengambil foto makanan:

  1. Set ISO Anda dengan kondisi pencahayaan di sekitar. Untuk makanan, diinginkan gambar dengan detail yang tajam, dan semakin rendah ISO semakin tajam foto yang dihasilkan, sebaliknya setting ISO yang semakin tinggi, ketajaman gambar akan berkurang.
    • Cahaya terang = 100-400.
    • Cahaya rendah = 400-1600.
    • Cahaya sangat rendah = 1600-6400.
  2. Set aperture dengan membayangkan cara kerja mata, bahwa pupil mata semakin kecil dalam cahaya terang dan lebih besar dalam kegelapan, begitu juga aperture. Fokus atau depth of field, akan lebih dangkal saat pupil (atau aperture) semakin besar. Hal ini bisa menjadi teknik yang berguna untuk fotografi makanan, karena dengan menggunakan aperture terbuka, kita dapat memiliki apa yang disebut dengan fokus selektif, dan berkonsentrasi pada bagian tertentu dari foto. Lalu mengapa ini selalu begitu membingungkan? Karena aperture memiliki hubungan terbalik dengan angka pada kamera. Nomor kecil (misal, 2,8) berarti memiliki aperture besar, dan nomor besar (misal, 11) berarti memiliki kecil.
  3. Shutter speed berhubungan langsung dengan ISO dan aperture. Pada fotografi makanan, yang pada dasarnya berupa foto still life, menggunakan shutter speed 1/60 atau lebih cepat akan memungkinkan kita untuk memegang kamera tanpa blur tanpa menggunakan tripod. Misalnya, setting yang biasa saya gunakan adalah shutter speed 1/60, aperture 4,0 dan 100 ISO, adalah titik awal saya, tanpa tripod. Jika ISO semakin tinggi, hanya perlu penyesuaian shutter speed pada aperture yang konstan.
  4. White balance sekarang ini dibuat jauh lebih mudah. Dengan munculnya fotografi digital dan khususnya penemuan format file RAW, saya set kamera ke auto white balance (AWB) dan kemudian melakukan koreksi white balance saya di Photoshop/Lightroom. Bila diinginkan foto bernuansa lebih dingin atau biru, perlu meningkatkan temperaturenya mendekati 5.500o Kelvin, dan pada nuansa hangat, atau lebih merah/oranye, atur temperatur menjadi lebih rendah, sekitar 3.200o Kelvin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s